Kamis, 29 Januari 2015

Sang Embung

Pasti kalian mengira aku salah ketik. Seharusnya sang embun kan? Tanpa huruf “g” tetapi aku tidak salah ketik lho. Itu sudah benar penulisannya. Lalu siapa itu embung? Embung adalah panggilan kesayangan untuk ibuku. Aku menemukan julukan itu saat pelajaran biologi di SMA. Saat itu sedang dibahas materi tentang alat pencernaan manusia. Lambung, entah kenapa aku suka mendengar nama alat pencernaan itu. Saat hari itu sepulang sekolah, aku mulai memanggil ibuku dengan sebutan “embung”. Ibuku juga tidak merasa keberatan saat aku mulai memanggilnya seperti itu tanpa bertanya maksudnya apa. Panggilan itu berlaku hingga saat ini. 

Kita semua pasti tahu kan kalau lambung itu sangat penting? Ya seperti itulah ibu bagiku. Kita tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa lambung. Sama halnya dengan aku dan semua anak lainnya tidak akan bisa hidup dengan baik tanpa kasih sayang atau setidaknya kehadiran seorang ibu. Seorang yang tidak atau kurang mendapat kasih sayang ibu akan terlihat berbeda perilakunya. Mereka bisa saja lebih kasar atau kurang beradab. Karena seorang ibu tidak bisa digantikan perannya oleh seorang bapak. Namun jika sebaliknya justru tidak apa. Banyak anak yatim yang sukses dan berbudi baik berkat didikan ibu mereka. Itulah keistimewaan seorang ibu. Bisa menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah.

Ibuku memang tidak lembut seperti wanita pada umumnya. Beliau tegas cenderung galak. Namun itu tidak berarti bahwa beliau bukan penyayang. Aku selalu ingat saat kecil aku pernah sakit selama seminggu dan ibuku selalu berurai air mata setiap menyuapiku. Seiring berjalannya waktu baru aku memahami bahwa sikapnya yang tegas itu adalah caranya mendidik agar aku tidak manja dan cengeng. Cara mendidiknya itu terbukti efektif. Banyak orang yang aku kenal mengakui bahwa aku pemberani dan tentunya tidak cengeng.


“Jadi perempuan itu harus feminin namun gak berarti kelewat lembut yang justru membuat kita terlihat lemah”, ujar ibuku. Kata-kata itu selalu terngiang dan mungkin terpatri dalam ingatanku. Jika aku sedang lelah dan tak bersemangat, aku mengingat kata-kata itu dan aku menjadi kuat lagi. Ada lagi petuahnya yang sungguh dahsyat. “Jangan mengandalkan orang lain, gak akan ada orang yang bisa membantu banyak. Hanya diri kita yang dapat membantu diri kita sendiri,” tuturnya sambil menjahit bajuku yang robek.

Aku selalu menceritakan banyak hal kepada ibuku. Tetapi tidak semua hal aku ceritakan padanya. Terkadang aku juga ingin memiliki privacy. Embungku pun memahami keinginanku itu. Ia seperti tahu dari caraku berbicara, jika menurutku itu tak ingin aku ceritakan maka ibuku tidak akan bertanya lebih lanjut. Namun tak jarang ibuku tahu dengan sendirinya tentang hal itu. Entah karena firasat seorang ibu atau bagaimana caranya, yang jelas ibuku cukup cerdik untuk tahu banyak hal yang aku sembunyikan. Kalau meminjam istilah anak sekarang, ibuku itu orang yang kepo. Sepertinya itu menurun kepadaku.

Manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, begitu pula ibuku. Terlepas dari itu semua, aku sangat menyayanginya. Aku tak pernah sakit hati jika ia marah dan berbicara dengan nada yang tinggi. Aku hanya diam dan membiarkannya meluapkan segala kekesalan. Tak lama setelah itu ibuku akan baik seperti sedia kala. Tak pernah sekalipun terlintas aku ingin punya ibu seperti si ‘A’ atau si ‘B’ karena ibuku adalah yang terbaik yang aku punya. Embung yang selalu dekat, merekat erat seperti lambung dalam tubuhku. 


Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com 
  

Sabtu, 24 Januari 2015

Entah

Dari dasar hati, dari kedalaman jiwa, ingin ku segera beranjak dari kesemuan ini..


betapa kuingin menembus batas, yg seolah tak bergeming ketika kusapa..

Gamang, ragu, amarah..

Adalah lagu-lagu sumbang yang tak selayaknya kudendangkan..

Jikalau rasa dapat bicara..

Mungkin semua akan habis tersingkap, dan tak ada lagi sesuatu yang kusebut rahasia..

biarlah waktu dan Sang Pemiliknya yang memberi..

Sabar dan ikhlas adalah sahabat terbaik yang harus dipelihara..

cita akan kujemput segera,, kupeluk dan tak akan kulepas..



*catatan hati seorang perindu*





Kereta itu Bernama Matarmaja

Selamat pagi dunia,

Kali ini aku mau flashback perjalanan aku ke Bromo.

Oktober 2012


Stasiun Pasar Senen menjadi tempat awal keberangkatan kami. Kami itu siapa? Kami itu terdiri dari aku dan 11 teman lainnya yang kukenal melalui sebuah trip organizer. Kami naik kereta Ekonomi Jurusan Jakarta-Malang yang sudah sangat terkenal di kalangan backpacker yaitu kereta Matarmaja. 


                           
                    inilah beberapa wajah (kami) saat menunggu keberangkatan di Stasiun Senen 


Aku merasa beruntung atau apalah namanya itu, pernah merasakan bagaimana kereta ekonomi yang sebenarnya. Istilah "ada harga, ada rupa" memang benar dan terbukti dengan perjalanan ini. Jujur, itu adalah kali pertama aku naik kereta ekonomi. Sebelumnya aku selalu naik kereta eksekutif atau bisnis. Kereta ekonomi yang dulu benar-benar sesuai dengan harganya yang sangat murah. Kursinya keras dan tentunya panas karena tidak dipasang AC tetapi hanya kipas angin. Benar-benar jauh dari kata nyaman, bahkan jendela kereta banyak yang rusak. Keadaan dalam kereta juga tak sedap dipandang mata. Banyak sekali pedagang yang keluar masuk. Terlebih lagi saat berhenti agak lama di suatu stasiun, maka para pengamen akan masuk ke kereta. Awalnya aku agak frustasi melihat pemandangan tersebut, ditambah saat mengingat 18 jam perjalanan yang harus ditempuh. Apa yang harus aku lakukan untuk membunuh waktu?

                                
                                   Kaca Jendela Matarmaja yang retak.. hiks

Ternyata kekhawatiran dan kegelisahanku tak jadi kenyataan. Bersyukur aku memiliki teman perjalanan yang menyenangkan. Kami bercerita tentang pengalaman traveling masing-masing. Banyak hal mengagumkan yang mereka punya. Bosan bercerita kami bermain kartu. Setelah bosan, kami lanjut bercerita lagi dan tak hentinya tertawa. Ada yang cerita tentang film horror Indonesia yang aneh, hingga alay (cabe-cabean) ala Bekasi pinggiran. Saking serunya bercerita, kami sampai tak tahu waktu. Sudah jam 9 malam masih berisik dan akhirnya diomelin oleh seorang ibu yang anaknya tidak bisa tidur karena berisik. Hahaha.. Sungguh 18 jam tak berasa lama saat bersama mereka yang kini bernama Geng Gahoel...



                                            Bermain kartu untuk membunuh waktu



Ini ceritaku, mana ceritamu?



Rabu, 21 Januari 2015

Backpacker?

Hello universe,


Dari dulu aku memang suka banget traveling tapi rasanya aku baru sadar bahwa aku mulai kecanduan traveling sejak aku jalan-jalan ke Bromo pada bulan Oktober 2012. Sebelumnya aku sudah pernah mengelilingi beberapa tempat di Pulau Jawa dan Bali. Ada yang bersama keluarga namun ada juga bersama teman-teman dengan memanfaatkan jatah gratis saat mengikuti lomba-lomba yang mewakili kampus. 

Trip Bromo merupakan awal aku mengenal bagaimana cara melakukan trip ala backpacker. Namun trip ini bukan aku gagas sendiri tetapi mengikuti sebuah open trip yang direkomendasikan oleh seorang teman. Dia pun ikut dalam Trip Bromo ini. Trip ala backpacker itu memiliki seni tersendiri. Karena kita harus menghemat budget sedemikian rupa sehingga kita bisa harus rela bersusah-susah. Tapi jangan salah, banyak keuntungan yang didapat jika kita traveling ala backpacker. Kita bisa mengunjungi banyak tempat sekaligus, mendapat banyak teman baru, mengenal orang-orang sekitar, dan masih banyak lagi.



Untuk kamu-kamu (iya kamu) yang belum pernah mencoba traveling ala backpacker. Saya anjurkan untuk segera mencoba. Rasakan sensasi serunya dan kamu akan ketagihan. Jika sebelumnya mungkin kamu hanya jalan-jalan setahun sekali atau dua kali, maka kamu pasti ingin lagi dan lagi. Frekuensi traveling kamu bisa jadi sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali.. hahayy...You live only once, make it fun and memorable









Sabtu, 17 Januari 2015

Assalamu'alaikum Blogger

Assalamu'alaikum blogger,

Sebenarnya ini bukanlah blog pertamaku, aku pernah memiliki blog namun sudah lama tak aku isi sehingga aku lupa email dan password yang aku gunakan untuk blog itu. Baiklah tak usah memikirkan yang telah lalu, sekarang aku harus memulai lagi yang baru. Semoga aku rajin mengisi blog baru ini sehingga tidak usang lagi seperti blog sebelumnya.

Beberapa postingan akan aku ambil dari blogku yang lama dan selebihnya adalah tulisan-tulisanku yang baru. Oh iya secara garis besar blogku akan memuat tentang traveling dan mungkin sedikit tentang fashion. Kebetulan aku memang hobi traveling dan memiliki sebuah trip organizer kecil-kecilan bernama Tripolicious. Tripolicious dibuat bersama dengan temanku yang bernama Siska dan Yipi yang sering membantu beberapa trip saat aku tidak bisa menemani para customer. Namun beberapa bulan ini agak vakum karena kesibukanku dan keasikanku naik gunung tanpa membawa brand organizer milikku. Semoga setelah musim hujan 2015 selesai aku dapat meneruskan jejak Tripolicious lagi.

Tunggu postingan selanjutnya ya...



Khansamnida...Anneyeong Haseo...